Author: Unknown
•09.51
Ramadhan telah bersiap menyapa kita di tahun ini. Gegap gempitanya mulai terasa dimana-mana. Anak-anak sudah mulai membunyikan petasan. Dhuaaaar!!! Suaranya bersahut-sahutan. Sesuatu yang lazim kita temui menjelang atau ketika Ramadhan hadir di tengah-tengah kita. Lihatlah spanduk Ramadhan bertebaran di segala penjuru kota, mulai dari masjid, kantor, sekolah, kampus, bahkan di jalan-jalan atau ruang publik lainnya. Hal yang sama bisa kita saksikan di layar-layar televisi. Seluruh stasiun televisi bersiap  menghadirkan acara-acara khusus Ramadhan ke pemirsanya. Semua stasiun televisi terlihat “lebih islami” dibanding bulan-bulan lain.

Acara-acara buka puasa pun tak kalah hebohnya, mulai dari masjid hingga hotel berbintang, bahkan tidak jarang acara ini menjadi ajang untuk bersilaturrahim atau reuni bagi kalangan tertentu, sebutlah contohnya para aktivis kampus. Pemakaman umum pun mulai dibanjiri para penziarah yang ingin mengirimkan doa bagi keluarga dan handai taulan yang telah mendahuluinya meninggalkan dunia yang fana ini. Melihat fenomena dan kenyataan di atas rasanya masyarakat Islam sudah terwujud. Mungkin saatnya para aktivis dakwah kampus “melempar handuk”, cita-citanya telah tercapai.

Hari-hari menjelang Ramadhan ini pun diisi dengan kisah mulai melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Inflasi kembali terjadi. Sesuatu yang lumrah terjadi saban tahun dalam menyambut Ramadhan. Tidak terkecuali para pengusaha, mereka menjadikan Ramadhan sebagai peristiwa yang dapat dipergunakan untuk tujuan multiguna, mulai dari menjual produk hingga merangsang konsumsi. Maka tidak heran kita sering mendengar istilah Bazar Ramadhan, Ramadhan Promo, Ramadhan Expo atau istilah-istilah lainnya. Biro-biro umrah pun tidak mau kalah. Para penyelenggara umrah dengan memanfaatkan sejumlah ustadz berhasil menggenjot perolehan peserta umrah dengan jumlah yang signifikan.
Ramadhan memang senantiasa menghadirkan sensasi. Akan banyak kisah yang senantiasa mengiringi perjalanan waktunya. Baik kisah itu positif atau justru negatif. Positif dengan meningkatnya tingkat keimanan dan ibadah seseorang atau justru negatif karena faktor-faktor budaya konsumerisme dan komersialisasi yang justru melekat. Mungkin kita sering mendengar sebuah anekdot, “biji salak yang biasanya keras menjadi lembut ketika Ramadhan masuk menyapa kita”. Sebuah anekdot yang menggambarkan bagaimana keutamaan bulan ini yang sangat besar dibanding bulan-bulan lain di luarnya.  Keutamaan yang sebenarnya sama saja dari tahun ke tahun. Dari zaman Rasulullah hingga zaman modern ini, keutamaannya tidak berkurang atau bertambah sedikitpun. Hanya suasana hati kita dan tingkat keimanan kitalah yang kemudian membedakan Ramadhan tahun ini dengan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Lantas sebenarnya apa saja keutamaan Ramadhan tersebut???

Kekayaan Puasa
Tidak bisa dipungkiri ibadah puasa merupakan ibadah utama di bulan ini. Umat Islam diwajibkan untuk menjalankan perintah puasa ini selama sebulan penuh. Allah sendiri yang berfirman dalam surat Al-Baqarah 183, “Hai orang-orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” Puasa menjadi ibadah yang spesial disebabkan ibadah inilah yang hanya Allah dan orang yang menjalankannya yang tahu apakah dia sedang berpuasa atau tidak. Berbeda dengan haji, shalat, berinfak, ataupun ibadah-ibadah lainnya yang orang lain bisa melihat secara langsung apakah kita sedang mengerjakan ibadah tersebut atau tidak. Maka Rasulullah pun menyampaikan kabar gembira kepada umatnya. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai, maka jangan berkata jorok dan (bertindak) bodoh. Kalau ada seseorang mendorongnya atau menghinanya, maka katakan ‘Saya sedang puasa’ dua kali. Dan demi jiwaku berada ditangan-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang berpuasa lebih harum disisi Allah SWT dibandingkan bau minyak misik. Meninggalkan makanan, minuman dan hawa nafsunya karena-Ku. Puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Dan kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekayaan Tarawih
Tarawih hanya dilakukan di malam-malam Ramadhan saja. Bahkan istilah tarawih ini muncul bukan dari Rasulullah SAW, melainkan dari istrinya, Aisyah ra. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah ra mengatakan, “Nabi SAW shalat malam empat raka’at, kemudian yatarawwah (istirahat), kemudian shalat lagi panjang sekali.” Rasulullah tidak pernah menyebutkan istilah ini dalam hadits-haditsnya. Pada zaman Rasulullah shalat shunnah pada malam Ramadhan itu dikenal dengan istilah qiyam Ramadhan. Lihatlah bagaimana tarawih bisa menjadi pemersatu umat yang baik. Silaturrahim yang tidak maksimal terjalin di bulan lain, melalui shalat shunnah ini mulai terjalin baik. Hampir di semua masjid, shalat tarawih dihadiri oleh para jama’ah yang membludak. Bahkan di periode awal malam-malam Ramadhan tersebut, sebagian masjid mendirikan tenda untuk menampung jama’ah yang lebih banyak dari biasanya. Para pengurus masjid bahkan sampai berniat merenovasi masjid karena melihat daya tampung masjid yang tidak memadai untuk para jama’ah. Hal ini menjadi daya tarik shalat tarawih, bagaimana mereka juga bisa menunjukkan (show of force) kekuatan umat Islam kepada khalayak sebagai bukti eksistensi umat Islam.

Kekayaan Al-Qur’an
Seorang anak kecil pun bahkan sudah tahu jika Al-Qur’an diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah di bulan Ramadhan. Walaupun masih terjadi perbedaan pendapat para ulama, apakah diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan atau 24 Ramadhan. Tetapi masuknya Ramadhan menimbulkan gegap gempita di kalangan umat Islam. Mereka yang tadinya jarang atau bahkan tidak pernah menyentuh dan membaca Al-Qur’an di bulan-bulan lain, khusus bulan ini mereka mulai memasang niat untuk mengkhatamkannya minimal sekali dalam sebulan. Tidaklah mengherankan, setiap selesai (ba’da) shalat, umat Islam terlihat membuka mushaf-mushaf Al-Qur’an. Ini hampir ditemui di seluruh masjid yang belum tentu pemandangan seperti ini akan terlihat di bulan-bulan lain. Halaqah-halaqah Al-Qur’an pun bermunculan di masjid-masjid. Bahkan ulama sekaliber Imam Malik meninggalkan majelis ilmu dan pembacaan haditsnya untuk memfokuskan diri dalam membaca Al-Qur’an. Maka bersungguh-sungguhlah untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah di bulan ini, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Pembacaan Al-Qur’an pada bulan ini memiliki keistimewaan tersendiri. Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW setiap tahun sekali pada bulan Ramadhan. Pada tahun wafatnya bahkan Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali untuk mengokohkan dan memantapkannya.

Gegap gempitanya Ramadhan tentu saja harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Karena Ramadhan terlanjur menjadi magnet bagi umat Islam untuk berbondong-bondong memaksimalkan kemampuannya dalam beribadah kepada Allah SWT. Pun dengan setelah fase Ramadhan, umat Islam harus tetap menunjukkan dirinya merupakan generasi Rabbani bukan hanya generasi Ramadhani yang keshalehannya hanya terlihat di bulan Ramadhan saja. Justru setelah Ramadhan inilah jadi ajang pembuktian, apakah gegap gempitanya Ramadhan membuat dirinya lebih baik, sama saja, atau bahkan lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Hanya kita yang mampu menjawabnya. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat!!!
This entry was posted on 09.51 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: